Powered by Blogger.
Home
  • Info Sehat
  • Jenis & Manfaat Rempah
  • Infus Water
  • Ramuan
  • Produk
  • Pemesanan

Saung Bageur

Bogor, Saung Bageur- Kayu manis (Cinnamomum verum, sin. C. zeylanicum) merupakan sejenis pohon penghasil rempah-rempah, dan merupakan jenis rempah yang amat beraroma, manis, dan pedas. 

Kayu manis termasuk salah satu jenis rempah tertua yang digunakan manusia sebagai bumbu makanan, karena jenis rempah ini telah digunakan di era Mesir Kuno sekitar 5000 tahun yang lalu, dan bahkan beberapa kali disebut dalam kitab-kitab Perjanjian Lama.

Ada beberapa spesies kayu manis yang saat ini dijual di pasaran, di antaranya:
1. Cinnamomum verum'(True cinnamon, Sri Lanka cinnamon atau Ceylon cinnamon)
2. Cinnamomum burmannii (korintje, kasiavera, atau Indonesian cinnamon)
3. Cinnamomum loureiroi (Saigon cinnamon atau Vietnamese cinnamon)
4. Cinnamomum aromaticum (Cassia atau Chinese cinnamon)

Kayu manis Ceylon sering kali hanya menggunakan kulit bagian dalam yang lebih tipis, lebih memiliki kesegaran, kurang padat, lebih beraroma, dan lebih lembut dalam rasa daripada kasiavera. 

Kasiavera memiliki rasa yang lebih kuat (sering lebih pedas) dibanding kayu manis Sri Lanka, dan umumnya berwarna merah kecoklatan dengan bobot sedang hingga ringan, keras dan bertekstur kayu, serta lebih tebal (2–3 mm).

Selain sebagai penyedap masakan, kayu manis juga secara tradisional dijadikan sebagai suplemen untuk berbagai penyakit dengan dicampur madu, misalnya untuk pengobatan penyakit radang sendi, kulit, jantung, dan perut kembung.

Karena khasiatnya untuk kesehatan, banyak orang menggunakan kayu manis secara membabi buta. Padahal, menurut lifehealth, penggunaan yang tanpa takaran kemungkinan dapat menimbulkan penyakit kardiovaskular dan diabetes.

Berapa takaran yang tepat mengonsumsi kayu manis?

Ada dua jenis kayu manis yang bisa Anda gunakan setiap hari, yakni kayu manis cassia yang dapat dikonsumsi satu sendok makan, dan kayu manis Ceylon hingga 2,5 sendok makan.

Kayu manis hendaknya juga tidak dikonsumsi bersamaan dengan obat diabetes, karena kayu manisdan Obat diabetes akan bereaksi satu sama lain. Karenanya, bagi penderita penyakit kardiovaskular atau diabetes, hendaknya menghindari konsumsi kayu manis.

Mengonsumsi terlalu banyak kayu manis juga akan berakibat pada masalah saluran pernapasan karena menyebabkan iritasi di tenggorokan. Jika mengonsumsi kayu manis berlebihan, maka Anda akan mengalami batuk-batuk, sehingga menyulitkan untuk bernapas.

Mengonsumsi kayu manis secara berlebihan juga akan mengurangi tingkat gula darah dalam tubuh, sehingga menyebabkan kelelahan dan pusing.

Jafi, meski baik untuk kesehatan, tetap bijak dalam mengonsumsi kayu manis ya? (SB)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bogor, Saung Bageur- Rempah-rempah dikenal tak hanya sebagai bumbu dalam mengolah dan menyedapkan masakan, namun juga sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Kesuburan tanah Indonesia yang mampu menumbuhkan berbagai jenis tanaman rempah, membuat Indonesia di masa lalu menjadi target penjajahan bangsa lain, seperti Portugis dan Belanda.

Hingga kini, rempah-rempah masih menjadi primadona. Terlebih ketika kesadaran masyarakat akan khasiat rempah untuk kesehatan, semakin meningkat dari waktu waktu, menyusul makin terungkapnya dampak obat-obatan berbahan kimia yang diproduksi pabrik-pabrik secara massal.

"Rempah masih sangat dibutuhkan sampai saat ini. Selain untuk kuliner, rempah juga digunakan untuk kesehatan, dan kecantikan atau untuk industri kosmetik," kata Ketua Yayasan Negeri Rempah, Bram Kushardjanto, seperti dilansir Liputan6.com pada 28 Maret 2019.

Saat ini ada sekitar 2,000 jenis tanaman rempah. Ini sudah termasuk tanaman keras seperti gaharu dan kemenyan, yang sudah teridentifikasi.

"6o persen ada di Indonesia, seperti gambir, pala, dan cengkih. Pala dan cengkih merupakan tanaman endemik. Artinya, tanaman asal Indonesia," sambung Bram.

Secara produksi rempah, Bram mengungkapkan Indonesia masih sangat kuat.Hhingga saat ini, meski bukan menjadi negara pengekspor rempah terbesar dunia, Indonesia masih tercatat sebagai negara produsen rempah terbesar dunia.

"Kita masih yang terbesar sampai saat ini. Masalah penjualan saja yang harus lewat Vietnam atau India, tapi kita tetap produsen terbesar," katanya.

Potensi untuk bisa memegang pasar rempah dunia,masih sangat besar. Terlebih di Asia masih banyak masyarakat yang melakukan ritual dengan wewangian aromatik dari rempah.

"Lada kita nomor tiga setelah Vietnam dan India, tapi produsen terbesar tetap Indonesia. Vietnam ladanya sedikit, tapi dia ambil dari kita yang harganya tidak bersaing di luar negeri," tegas Bram.

Pada situs aladokter.com, dr. Kevin Adrian mengatakan, rempah-rempah tak hanya dapat menurunkan risiko berbagai penyakit, namun juga mampu mengurasi kerusakan sel-sel tunuh dan melawan peradangan.

"Risiko munculnya berbagai penyakit dipercaya dapat menurun dengan cara mengonsumsi rempah-rempah. Manfaat rempah-rempah disebut mampu mengurangi kerusakan sel-sel tubuh dan melawan peradangan. Itu semua berkat bahan kimia menyehatkan bernama phytochemical yang terkandung di dalamnya. Yuk, simak ulasan manfaat rempah-rempah berikut ini," katanya dalam media itu.

Yang perlu dicatat, rempah-rempah yang diolah menjadi produk obat-obatan herbal selain memiliki khasiat, juga tidak memiliki efek samping seperti obat kimia.

So, tunggu apa lagi? Mari hidup sehat bersama rempah-rempah. Back to nature! (SB)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bogor, Saung Bageur- Jika kita sakit, kita membutuhkan obat untuk menyembuhkan penyakit kita, dan obat itu takkan berhenti dikonsumsi hingga kita sembuh.

Tapi tahukah Anda bahwa obat-obatan yang diolah dari bahan kimia itu tak hanya dapat menyembuhkan penyakit kita, tapi juga dapat menimbulkan penyakit lain sebagai efek samping obat tersebut?

Seperti dilansir eventkampus.com pada 12 Maret 2018, obat-obatan kimia yang kita konsumsi itu dalam jangka panjang dapat menimbulkan 17 efek samping terhadap fisik dan mental kita. Obat-obatan ini bahkan dapat menjadi racun bila dikonsumsi tanpa tidak sesuai kaidah yang ditentukan.

"Telah dilakukan penelitian pada efek tetap dan efek samping dalam setiap obat. Penelitian pada efek samping dalam jangka panjang biasanya dilakukan dalam kurun waktu 10-20 tahun. Pada dasarnya, penggunaan sebuah obat dalam jangka panjang harus dihindari, mengingat tidak selamanya tubuh kita dapat mengabsorbsi ataupun menetralisir setiap zat yang masuk," kata media tersebut.

Saat ini efek penggunaan dari suatu obat kimia belum kita rasakan, lalu bagaimana jika suatu saat tubuh kita terserang penyakit yang lumayan parah? Bisa jadi hal tersebut merupakan efek dari obat-obatan kimia yang pernah kita konsumsi.

Berikut 17 efek samping obat kimia dalam jangka panjang terhadap fisik dan mental.

Secara Fisik

1. Infeksi
Beberapa obat yang digunakan dalam jangka panjang justru dapat memicu timbulnya infeksi di beberapa bagian tubuh. Terutama oleh obat-obatan antibiotik ataupun vaksin yang dibuat melalui pemanfaatan bakteri atau virus. Obat jenis antibiotik merupakan obat yang dihasilkan dari bioteknologi modern, mengubah bakteri menjadi obat. Oleh karena itu, penggunaan dalam jangka panjang atau tidak sesuai aturan justru berbahaya bagi tubuh. Dari resisten hingga infeksi yang berbalik menyerang tubuh.

2. Komplikasi
Komplikasi adalah gabungan kerusakan dari beberapa organ, terjadi bila kita terlalu banyak dan sering mengkonsumsi berbagai macam obat maupun gaya hidup tidak sehat yang kurang baik. Obat-obatan yang dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka panjang dapat merusak sebuah organ, satu organ yang rusak ini dapat mengganggu metabolisme yang hasilnya akan merusak atau menurunkan fungsi dari organ lain. Inilah yang disebut dengan komplikasi.

3. Kerusakan Ginjal
Ginjal merupakan penyaring darah, dan obat-obatan semuanya diangkut oleh darah. Darah kotor hasil metabolisme juga membawa ampas-ampas obat atau istilahnya sisa racun yang nantinya akan disaring oleh ginjal. Terlalu banyak mengkonsumsi obat dapat menjadi penyebab gagal ginjal di kemudian hari. Karena banyaknya racun yang tertumpuk di ginjal.

Beberapa gangguan lain yang mungkin terjadi mulai dari kencing batu hingga nekrosis ginjal. Untuk itu dianjurkan meminum obat bersama air putih. Dan per banyak minum air putih, minimal 8 gelas per hari demi kesehatan ginjal.


4. Kerusakan Jantung
Tak dapat dipungkiri, jantung merupakan pemompa darah. Setiap darah di tubuh pun akan dialirkan ke jantung mulai dari yang bersih hingga yang kotor. Penggunaan obat penguat jantung seperti digoksin, kardiovaskuler seperti siledenafil, obat-obat anti hipertensi dan diuretik dapat menurunkan fungsi jantung di kemudian hari. Kerusakan yang terjadi dapat terlihat dari beberapa masalah penyakit jantung saat tubuh mulai memasuki usia senja. Masalah tersebut seperti angina pektoris, infark jantung, aritmia, bahkan gagal jantung.

5. Kerusakan Panca Indera
Ada 5 panca indera didalam tubuh kita yaitu mata, hidung, lidah, telinga, dan kulit. Beberapa obat memiliki efek samping jangka pendek seperti pandangan kabur, kesulitan mendengar, hilang rasa, ruam kulit, dsb. Namun, tahukah beberapa obat memiliki efek jangka panjang juga untuk beberapa panca indera ini. Seperti penggunaan antihistamin dengan efek jangka panjang yang dapat merusak penglihatan dan pendengaran.

Tak jarang juga beberapa masalah di kemudian hari seperti katarak, rabun, masalah pada indera pengecap, hingga tuli disebabkan oleh penggunaan beberapa obat, salah satunya antibiotik.

6. Gangguan Saraf Akut
Biasanya terjadi di usia senja, gangguan saraf mulai dari mati rasa, stroke, tremor, hingga kelumpuhan dapat di rasakan oleh beberapa pengguna obat-obat seperti antihipertensi ataupun kardiovaskuler. Penggunaan psikotropik juga dapat menimbulkan masalah pada saraf di kemudian hari. Salah satu efek paling parah pada gangguan saraf ini adalah kegagalan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah merah.

7. Berkurangnya Sistem Imun
Obat adalah racun, itulah yang kami katakan di awal. Ampas yang di tinggal akan obat-obatan pun tidak akan bersih total setelah dikeluarkan melalui keringat dan urin. Oleh karena itu, obat-obatan sejatinya meninggalkan racun dalam tubuh. Bayangkan anda meminum racun satu botol saat ini, mungkin anda akan langsung mati karena sistem imun tidak sanggup menetralisir.

Begitu pula dengan obat adalah racun yang ada tidak langsung banyak, sedikit demi sedikit sebanyak kita mengkonsumsinya. Namun, perlahan tapi pasti sistem imun terus terganggung dan perlahan berkurang efektivitasnya dalam menangkal zat asing, karena banyaknya racun di dalam tubuh.

8. Resistensi Bakteri
Bahaya antibiotik tidak sesuai aturan dapat menimbulkan resistensi bakteri dalam tubuh. Hasilnya, beberapa bakteri tidak akan mempan lagi dengan antibiotik tersebut. Oleh karena itu hindari terlalu sering menggunakan antibiotik, terutama menggunakan generasi yang paling akhir. Karena jika suatu saat tubuh terserang bakteri patogen, mungkin tidak ada lagi antibiotik yang mampu menyembuhkan.

9. Tumbuhnya Bakteri dalam Tubuh
Penggunaan beberapa obat dalam jangka panjang justru memicu pertumbuhan bakteri dalam tubuh. Seperti penggunaan omeprazole yang dapat memicu pertumbuhan bakteri ECL (Enterokromafin-Like Cells).

10. Nekrosis Hati
Guna hati adalah menetralisir setiap racun yang masuk ke tubuh. Begitu pula dengan obat, setiap obat yang masuk pun zat berbahayanya beberapa akan di netralisir di hati. Fungsi hati akan semakin menurun di usia senja, ditambah dengan banyaknya penggunaan obat di usia muda dapat menimbulkan kerusakan hati di hari tua. mulai dari kanker hati hingga kerusakan total pada hati (mati).

11. Reaksi Alergi atau Hipersensitiv
Obat-obat golongan steroid, antihistamin, dan beberapa golongan antibiotik dapat menimbulkan reaksi alergi baik jangka panjang maupun pendek. Bahkan beberapa ada yang menimbulkan alergi yang sebelumnya tidak ada. Hal ini juga di karenakan menurunnya sistem imun oleh efek jangka panjang obat-obatan.

12. Pengeroposan Tulang
Biasa terjadi pada pengguna antibiotik sejak kecil, yang terjadi mulai dari gigi keropos, kuku mudah patah, dan biasanya terjadi pengeroposan gigi dan tulang di usia senja. Sebagian besar antibiotik memiliki peranan besar pada efek jangka panjang yang satu ini.


Secara Mental

1. Ketergantungan
Merupakan efek jangka panjang yang paling sering terjadi. Biasanya ke tergantungan ini pun terjadi karena adanya sugesti. Bisa juga terjadi karena penyalahgunaan obat-obatan seperti penggunaan obat psikotropik atau narkotik (jenis narkoba). Atau orang-orang yang meminum CTM agar bisa tidur, padahal efek samping CTM adalah sebagai anti alergi.

Kasus lainnya, beberapa orang yang menganggap hanya cocok atau bisa sembuh dengan satu merek obat. Walaupun ada obat lain yang memiliki kandungan dan dosis yang sama ia merasa tidak cocok dan hasilnya penyakit yang di derita pun tidak sembuh. Ingat, sugesti adalah salah satu faktor kesembuhan.


2. Merubah Kebiasaan
Beberapa efek jangka panjang obat juga dapat merubah kebiasaan seperti kebiasaan BAB, waktu tidur, pola makan, serta keletihan. Banyak pasien yang mengeluhkan waktu tidur menjadi tidak teratur setelah meminum sebuah obat, atau pola makan menjadi rusak.

3. Gangguan Psikis
Seperti bahaya narkoba pada beberapa orang dapat menyebabkan gangguan psikis, sekalipun di gunakan atas arahan dokter. Gangguan psikis ini berapa seringnya muncul halusinasi, suka menghayal, dan mudah linglung. Ketergantungan juga menimbulkan gangguan psikis yang serius.

3. Susah Tidur atau Insomnia
Biasa terjadi bagi beberapa orang yang menggunakan obat-obat steroid, pola tidur menjadi tidak teratur. Beberapa orang yang tidak cocok bahkan mengeluh penyebab jantung berdebar atau penyebab dada sesak nafas ketika akan tidur. Namun, pilihan yang salah jika mengatasi hal ini dengan mengonsumsi obat tidur. Cobalah konsultasikan pada dokter ataupun terapis. Menggunakan obat tidur pada kasus insomnia dapat menimbulkan efek berbahaya di kemudian hari, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

4. Emosi Labil
Beberapa orang akan merasakan efek seperti ini di usia senja, atau biasanya ketika sudah tidak banyak melakukan kegiatan. Beberapa obat mempengaruhi susunan saraf, termasuk yang mengatur emosi. Sehingga tak jarang kita melihat beberapa lansia mudah tersinggung, mudah marah, mudah bingung. Hal ini tidak murni disebabkan oleh usia, beberapa obat pun memegang peranan penting atas efek jangka panjang ini seperti penggunaan obat-obatan dengan diklofenak atau golongan AINS.

5. Fobia Akut
Beberapa obat memiliki efek jangka panjang menimbulkan fobia. Seperti penggunaan psikotropik atau pun narkotik yang dapat menimbulkan beberapa fobia secara psikis bahkan hingga di kemudian hari. Beberapa golongan obat antibiotik seperti doxicicline dapat menimbulkan reaksi fotofobia atau takut terkena sinar matahari. (SB)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

About me

Labels

  • Info Sehat
  • Jenis & Manfaat Rempah

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  March (5)
      • Kayu Manis dan Khasiatnya
      • Rempah-rempah Berkhasiat Untuk Kesehatan
      • 17 Efek Samping Obat Kimia
      • Manfaat Ketumbar
      • Manfaat Bawang Putih Tunggal

LATEST POSTS

  • Kayu Manis dan Khasiatnya
    Bogor, Saung Bageur - Kayu manis (Cinnamomum verum, sin. C. zeylanicum) merupakan sejenis pohon penghasil rempah-rempah, dan merupakan je...
  • 17 Efek Samping Obat Kimia
    Bogor, Saung Bageur - Jika kita sakit, kita membutuhkan obat untuk menyembuhkan penyakit kita, dan obat itu takkan berhenti dikonsumsi hi...
  • Manfaat Ketumbar
Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!

Created with by ThemeXpose | Copy Blogger Themes